Seputar Peradilan

 UPACARA BENDERA MEMPERINGATI HARI SUMPAH PEMUDA TANGGAL 27 OKTOBER 2017

 Foto Upacara Sumpah Pemuda

 Seluruh Hakim beserta karyawan dan karyawati Pengadilan Agama Depok berkumpul di Lapangan Parkir Pengadilan Agama Depok Kelas IA, pada hari Jum'at,tanggal 27 oktober 2017 dalam rangka pelaksanaan Upacara bendera memperingati hari sumpah pemuda. Ketua Pengadilan Agama Depok, Dr. H. Andi Akram SH., MH., bertindak sebagai pembina upacara.

 

Foto Upacara Sumpah Pemuda

 

 

 

 

 

 

 

Dalam sambutannya KPA (Dr. H Andi Akram,SH. MH.,) Menyatakan :

kita tentu patut bersyukur atas sumbangsih para pemuda Indonesia yang sudah melahirkan sumpah pemuda. Sudah seharusnya kita meneladani langkah-langkah dan keberanian mereka hingga mampu menorehkan sejarah emas untuk bangsanya. Badingkan dengan era sekarang. Hari ini, sarana transportasi umum sangat mudah.Untuk menjangkau ujung Timur dan barat Indonesia hanya dibutuhkan waktu beberapa jam saja. Untuk dapat berkomunikasi dengan pemuda di pelosok-pelosok negeri ini, cukup dengan menggunakan alat komunikasi,tidak perlu menunggu datangnya tukang pos hingga berbulan-bulan lamanya. Interaksi sosial dapa dilakukan 24 jam, kapanpun dan di manapun.

Namun,anehnya justru dengan berbagai macam kemudahan yang kita miliki hari ini, kita justru lebih sering berselisih paham, mudah sekali memvonis orang,mudah sekali berpecah belah,saling mengutuk satu dengan yang lain, menebar fitnah dan kebencian. Seolah-olah kita ini dipisahkan oleh jarak yang tak terjangkau,atau berada di ruang isolasi yang tidak terjamah, atau terhalang oleh tembok raksasa yang tinggi dan tebal hingga tidak dapat ditembus oleh siapapun . Padahal, dengan kemudahan teknologi dan sarana transportasi yang kita miliki hari ini, seharusnya lebih mudah buat kita untuk berkumpul, bersilahturahmi dan berinteraksi sosial. Sebetulnya, tidak ada ruang untuk salah paham apalagi membenci, karena semua hal dapat kita konfirmasi dan kita klarifikasi hanya dalam hitungan detik.

Mari kita kukuhkan persatuan dan kesatuan Indonesia. Stop segala bentuk perdebatan yang mengarah pada perpecahan bangsa. Kita seharusnya malu dengan para pemuda 1928 dan juga kepada Bung Karno, karena masih harus berkutat di soal-soal ini. Sudah saatnya kita melangkah ke tujuan laih yang lebih besar, yaitu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.